"Mencintai itu,kadang mengumpulkan segala tabiat menyebalkan dari seseorang yang engkau cintai,memakinya. Merasa tak sanggup lagi menjadi yang terbaik untuk dirinya dan berpikir tak ada lagi jalan kembali, tapi tetap saja engkau tak sanggup benar-benar meninggalkannya" -Tasaro GK
Sudah bertahun lebih. Aku merasakan kedatangan sesuatu yang sudah lama tidak mengunjungiku, datang kepadaku. Aku tak ingat pasti, kapan terakhir segenggam rindu bisa membuatku selumpuh ini. Di kepalaku, sebuah senandung terputar dan aku merasakan dentuman pada kerak kepalaku. Tertahan sampai mengintip air mata. Sedetak lagi jatuh, menetes. Sebuah penemuan besar; menggelar jarak begitu efektif menghidupkan ketulusan.
Terus melangkah dan menikmati kelumpuhannya, tanpa kawan..sendirian.
Aku lantas berfikir.
Perjalanan cinta seperti jalur-jalur benda langit yang senantiasa kuamati di langit malam. Masing-masing takdir benda langit itu mengantar mereka kepada pengembaraan-pengembaraan jauh. Menembus ruang dan waktu. Tetapi pasti sampai pada ujung jarak yang sanggup mereka tempuh.
Pahamilah analogiku bahwa mencintai ada titik komprominya. Masih bisa tersimpan rapi di hati, tetapu tidak bisa maju lagi. Jika dipaksakan maka timbul ketidakseimbangn. Jadi, semacam apa eksekusi cinta yang benar?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar