Sabtu, 13 Juni 2015

Sendu tapi bukan rengekan manja

Berapa lama aku memendamnya? Satu hari? Dua hari? Berminggu? Atau bahkan berbulan? Bukan bermaksut menyembunyikan, bukan. Tapi rasanya, dipendam pun akan jauh lebih baik. Ah, tapi benarkah? Lupakan. Aku hanya menghibur diriku sendiri. 
Pagi itu, siang itu, sore itu, pun bahkan malam itu... Semuanya seperti tak ada apanya bagiku. Jangan sebut hampa. Hidupku tak pernah hampa. Selalu ada rona-rona di dalamnya, haha rona macam apa yang aku katakan? Bedebah. 
Sejujurnya hidupku tak lebih baik dari terperangkap di dalam toples kecil. Eh? Toples?
Bukannya aku cengeng, tapi air itu jatuh juga. Sudah kutahan baik-baik, "Sst diamlah disitu, jangan menetes. Jangan sampai orang lain melihatmu.." Begitulah kuucap dalam hati pada sesuatu yang kusebut air mata. Tapi nyatanya? Mengalir juga, pedas, perih menjadi satu. Aku bukan lemah, bukan. Tapi ini fitrahku, sesuatu yang memang sudah ada pada diriku. Mau dikatakan aku gadis cengeng pun aku tak menolak, biarlah.. Biarlah saja.
Sejujurnya, apa yang membuatku serapuh ini? Tunggu. Aku rapuh? Lalu setelah sekian lama diabaikan akan hancur, begitu? Kurang lebih. Itu argumenku, tolong jangan kau bantah.
Aku meniti hidup seperti layaknya kebanyakn gadis remaja lain, lalu apa yang beda? Caraku menatap dunia? Caraku berbicara pada dunia? Atau apa? Sebuah dentuman keras menghentak ingatanku. Aah. Mengapa terasa sakit? Mengingat sesuatu yang... seharusnya tak kuingat lagi memang menyakitkan.
 Aku yang bodoh. Membiarkan semua ini tertata rapi di otak. Hei kau, enyahlah dari ingatanku. 
Tapi, tunggu. Sepertinya aku melupakan sesuatu. Bukankah ini bersifat permanen? Tak akan lepas meski dikikis waktu? Lalu, aku harus bagaimana? Tetap membiarkannya singgah dan hidup di lika-liku kesenduan? Baiklah tak apa. Aku sudah terbiasa, sebenarnya..