Pernah kau bayangkan betapa remuknya jiwa ini ketika perlahan orang-orang yang selama ini kau sangka peduli tetapi ternyata membuang jauh bentuk kepedulian itu?
Ada masanya mereka datang, lalu seperti sudah kuduga , pergi juga. Menyisakan sebuah tanda tanya besar dikepala. Apa salahku hingga membuat mereka pergi begitu saja? Ataukah memang ini merupakan takdir abadiku yang seterusnya nelangsa karena baku hantam batin?Aku merasa dibodohi dan membodohi diriku sendiri. Betapapun besar bentuk kepedulianku pada mereka namun berbalaskan dengan tamparan yang menghujam diriku. Lemah. Aku lemah. Ketika seorang kawan bertanya, "Kamu kenapa lun?" Dengan nada kekhawatirannya, biasa kujawab "Aku nggak apa² kok," dengan senyum getirku.
Ah tak apalah aku membohongi untuk beberapa saat.
Mereka yang pergi biarlah pergi. Aky tak pantas lagi mengemis-ngemis belaian mereka, yang sepertinya hanya kesemuan belaka. Mungkin ini waktuku untuk melangkah, entah untuk apa. Entah untuk siapa. Rasanya, kebahagiaan itu hanya dapat kutemukan di dalam cerita-cerita pengantar tidurku di masa kecil dulu. Yang kuminta, Tuhan.. kuatkan aku
Sabtu, 16 Mei 2015
Sabtu, 02 Mei 2015
Tinta di Penghujung April 2015
"Mencintai itu,kadang mengumpulkan segala tabiat menyebalkan dari seseorang yang engkau cintai,memakinya. Merasa tak sanggup lagi menjadi yang terbaik untuk dirinya dan berpikir tak ada lagi jalan kembali, tapi tetap saja engkau tak sanggup benar-benar meninggalkannya" -Tasaro GK
Sudah bertahun lebih. Aku merasakan kedatangan sesuatu yang sudah lama tidak mengunjungiku, datang kepadaku. Aku tak ingat pasti, kapan terakhir segenggam rindu bisa membuatku selumpuh ini. Di kepalaku, sebuah senandung terputar dan aku merasakan dentuman pada kerak kepalaku. Tertahan sampai mengintip air mata. Sedetak lagi jatuh, menetes. Sebuah penemuan besar; menggelar jarak begitu efektif menghidupkan ketulusan.
Terus melangkah dan menikmati kelumpuhannya, tanpa kawan..sendirian.
Aku lantas berfikir.
Perjalanan cinta seperti jalur-jalur benda langit yang senantiasa kuamati di langit malam. Masing-masing takdir benda langit itu mengantar mereka kepada pengembaraan-pengembaraan jauh. Menembus ruang dan waktu. Tetapi pasti sampai pada ujung jarak yang sanggup mereka tempuh.
Pahamilah analogiku bahwa mencintai ada titik komprominya. Masih bisa tersimpan rapi di hati, tetapu tidak bisa maju lagi. Jika dipaksakan maka timbul ketidakseimbangn. Jadi, semacam apa eksekusi cinta yang benar?
Sudah bertahun lebih. Aku merasakan kedatangan sesuatu yang sudah lama tidak mengunjungiku, datang kepadaku. Aku tak ingat pasti, kapan terakhir segenggam rindu bisa membuatku selumpuh ini. Di kepalaku, sebuah senandung terputar dan aku merasakan dentuman pada kerak kepalaku. Tertahan sampai mengintip air mata. Sedetak lagi jatuh, menetes. Sebuah penemuan besar; menggelar jarak begitu efektif menghidupkan ketulusan.
Terus melangkah dan menikmati kelumpuhannya, tanpa kawan..sendirian.
Aku lantas berfikir.
Perjalanan cinta seperti jalur-jalur benda langit yang senantiasa kuamati di langit malam. Masing-masing takdir benda langit itu mengantar mereka kepada pengembaraan-pengembaraan jauh. Menembus ruang dan waktu. Tetapi pasti sampai pada ujung jarak yang sanggup mereka tempuh.
Pahamilah analogiku bahwa mencintai ada titik komprominya. Masih bisa tersimpan rapi di hati, tetapu tidak bisa maju lagi. Jika dipaksakan maka timbul ketidakseimbangn. Jadi, semacam apa eksekusi cinta yang benar?
Langganan:
Postingan (Atom)