Sabtu, 25 April 2015

Empat Lebih Lima Belas

Ia tersenyum. Matanya menerawang ke angkasa sana. Berharap setengah jiwanya berada di sampingnya. Ia tersenyum, lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Lalu kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya, menunduk.
"Aku tak boleh terlalu berharap," Ia bersikukuh. Terik matahari begitu menyengat. Hari sudah hampir sore. Jantungnya berpacu sedikit lebih cepat. Ia menarik napas seperti mengosongkan paru-paru lalu perlahan ia hembuskan.
Adzan ashar berkumandang. Memenuhi angkasa sana. Lalu, berbondong orang-orang menuju masjid, menghadap Sang Pencipta. Pukul berapakah sekarang? Berulang kali ia menatap jam yang menggantung di dinding. Tepat pukul empat lebih lima belas, ia bergegas menuju tempatnya. Kosong.
Ia melemparkan pandangan ke segala penjuru. Mencari sosoknya, namun tetap saja masih kosong. Ia mendesah panjang. Setengah jiwanya tak berada di tempatnya. Benar-benar tak ada. Lalu kemanakah? Bukankah mereka sebelumnya telah bersepakat? harusnya ia tahu, harusnya ia mengerti. Seharusnya ia tak boleh terlalu berharap! Ia berbalik pergi, dan setiap ia melihat tempat itu, perih hatinya.

Jumat, 24 April 2015

Sepucuk Surat Untukmu

Ada yang tersenyum sambil membisikkan dendang langka. Lagu yang sudah tak dikenali generasi masa kini. Punah dikunyah masa. Bibinya tersenyum, tetapi matanya melelehkan air mata. Ia teringat tatapan mata belahan hatinya.
Jika engkau cinta, tatapan seperti itu tidak mungkin dusta. Tatapan yang tidak mampu kau tukar dengan gunung emas. Tatapan kasih yang tak terbatas. Seolah tak cukup engkau serahkan seluruh hidup. Tatapan yang telah tertinggal oleh waktu, mustahil diulang. Sebab, belahan jiwanya terlanjur mengangkasa. Meninggalkan di galaksi cinta. Membiarkannya menunggu tanpa tenggat waktu. Rasanya, melanjutkan hidup sekedar menghitung mundur menuju hari kematian. Namun, dia rela. Engkau mengatainya bodoh. Namun, dia rela.
Ada yang menyendiri sambil menatap langit. Baginya, menarik napas pun seolah membuat nyawanya terampas. Rindu yang menyesakkan. Pada titik tertentu seperti mengosongkan paru-paru. Rasa yang sudah begitu renta, tapi tak pernah menjadi kata-kata.dia kini terlalu tua untuk merangkai kalimat mesra. Bagimu, tak ada kata terlambatuntuk mencintai, baginya tidak pernah ada waktu untuk mengatakan, “Setelah tuhan, kaulah yang mampu mematikan matahari.”
Dahulu, ketika jiwanya belum terbelah, ketika kebersamaan masih begitu mudah, dia menyemai bibit dalam hati. Begitu asyiknya hingga saat setengah jiwanya pergi, sudah terlambat untuk mematikan tanaman hati ini. Hingga kini menunggu baginya tak berarti harus bertemu. Ia melarikkan bait puisi tanpa berharap setengah jiwanya kembali. Kepada temaram petang, dia melengkungkan perasaannya yang berumur selamanya. Terkadang, hasratnya menggejolak, menghasutnya untuk melakukan sebuah perjalanan. Meniti jejak di permukaan pelangi. Barangkali, setengah jiwanya berada disana.
Jika waktu adalah kupu-kupu, sudah lelah hatinya melanglang setiap sudut bumi. Sampai waktunya berhenti. Tetap menunggu, namun tak berharap untuk bertemu. Dia menyadari, tidak semua cinta layak diperjuangkan. Maka, yang tertinggal adalah jejak kasih yang mulai memburam. Ia bersihkan setiap debu yang membuat jejak itu tak gemintang. Mencoba bergembira dengan apa yang pernah terjadi. Menyimpannya bagai sekotak perhiasaan.engkau mengatainya sia-sia. Namun, dia tetap cinta. Sudahlah... aku sudah tidak punya doa untukmu. Selesai. Tuhan sudah terlalu baik. Tidak pantas aku merepotkan Dia terus-menerus. Lanjutkan hidupmu. Namun, aku tak akan meminta izin jika sewaktu-waktu ingin menggambar wajahmu. Aku harap bukan dengan air mata. Aku bosan. Penyiksaan itu sudah menua. Ketika setiap ingatan tentang kau mengubah keceriaan.
Aku tak menjajikan apapun. Tidak, bahwa aku akan melupakanmu atau malah mengabadikan tawamu. Bukankah sejak namamu di kepalaku, aku pun tidak pernah berkata apa-apa?
Langit adalah arenamu, terbanglah! Aku tidak akan berkata apa-apa. Ini bukan sebuah pengorbanan. Sebab, aku memang tak pernah merasa berhak atasmu. Engkau akan selalu menjadi keajaiban bagiku. Bahkan diammu, dulu.
Terima kasih, karena engkau pernah menangis untukku. Aku tidak pernah bertanya dan engkau pun membiarkannya sebagai misteri. Mengapa harus berkaca-kaca? Hanya sekali, itu sudah cukup untuk membangun surga di mimpiku. Engkau tak harus tahu, penjaraku membuat setiap jeda napasku adalah kebuntuan.
Apa di masa depan, biarkan.
Bahkan, engkau akan tetap remaja, meskipun usia kita kelak akan menua. Aku yang berdosa. Bahkan, mengingatmu mungkin... adalah dosa. Namun, kau tahu, aku terlahir dengan seragam dosa?
Ah, aku ingin berbagi mimpiku dulu.aku hanya butuh sepotong sore yang tenang, angin sepoi, dan helaan pada pucuk-pucuk ilalang.kita menikmati matahari dan sinarnya yang kelebihan. Namun, mimpi itu tak akan menyata, meskipun aku memiliki surga. Kematian tidak akan pernah menyatukan. Ini aku, gadis kecil yang engkau tahu dulu. Tidak pernah benar-benar beranjak dari waktu itu. Aku terperangkap, mungkin selamanya.
Namun, tak perlu kau pikirkan itu. Aku sudah terbiasa dengan ini. Aku tidakk akan apa-apa. Tuhan selalu membekaliku dengan baik. Lewat engkau, dia menjajahku. Namun, dia sudah mengguyuriku dengan kesenangan lain. Meskipun aku benar-benar butuh surga untuk menggantikanmu.
Jadi, sudahlah. Aku tidak lagi punya doa buatmu. Waktu punya cara sendiri melewatkan segala ini.

Sudahlah. Mengepaklah. Mengangkasalah.

Minggu, 19 April 2015

Mini Prolog

Ini aku. Gadis yang engkau tahu dulu, hampir bertahun itu. Ini aku. Menuliskan segala kecamuk kehidupanku yang berwarna kelihatannya.
Kau tahu? Aku mulai menulis ketika aku tahu kau suka membaca. Masih sukakah engkau membaca? Tak perlu suka atau tidak pun kau harus terus membaca. Sebab membaca adalah celah untuk kau merangsek pada kehidupan yang nyata. Bagiku membaca adalah segalanya. Tanpa membaca, aku tak akan mengerti tentang dunia ini, meski baru seperkecilnya. Aku akan sangat berterimakasih pada sosok yang telah membantuku membaca. Huruf-huruf lepas mulanya, lalu perlahan terangkai menjadi kata-kata.
Ingat ketika Baginda Muhammad dipaksa Jibril untuk membaca padahal beliau tak mampu? Iqra'! Iqra'! Bacalah! Sebab paksaan itulah beliau mampu membaca.
Maka, membacalah. Sebab disitu akan kau temukan banyak kristal-kristal pengetahuan tentang kehidupan ini.
Ini adalah tulisanku, yang kusebut sebagai mini prolog. Ini lembaranku, bacalah jika kau berkeinginan untuk mengeruk isinya.