Ia tersenyum. Matanya menerawang ke angkasa sana. Berharap setengah jiwanya berada di sampingnya. Ia tersenyum, lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Lalu kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya, menunduk.
"Aku tak boleh terlalu berharap," Ia bersikukuh. Terik matahari begitu menyengat. Hari sudah hampir sore. Jantungnya berpacu sedikit lebih cepat. Ia menarik napas seperti mengosongkan paru-paru lalu perlahan ia hembuskan.
Adzan ashar berkumandang. Memenuhi angkasa sana. Lalu, berbondong orang-orang menuju masjid, menghadap Sang Pencipta. Pukul berapakah sekarang? Berulang kali ia menatap jam yang menggantung di dinding. Tepat pukul empat lebih lima belas, ia bergegas menuju tempatnya. Kosong.
Ia melemparkan pandangan ke segala penjuru. Mencari sosoknya, namun tetap saja masih kosong. Ia mendesah panjang. Setengah jiwanya tak berada di tempatnya. Benar-benar tak ada. Lalu kemanakah? Bukankah mereka sebelumnya telah bersepakat? harusnya ia tahu, harusnya ia mengerti. Seharusnya ia tak boleh terlalu berharap! Ia berbalik pergi, dan setiap ia melihat tempat itu, perih hatinya.
Sabtu, 25 April 2015
Jumat, 24 April 2015
Sepucuk Surat Untukmu
Ada yang
tersenyum sambil membisikkan dendang langka. Lagu yang sudah tak dikenali
generasi masa kini. Punah dikunyah masa. Bibinya tersenyum, tetapi matanya
melelehkan air mata. Ia teringat tatapan mata belahan hatinya.
Jika engkau
cinta, tatapan seperti itu tidak mungkin dusta. Tatapan yang tidak mampu kau
tukar dengan gunung emas. Tatapan kasih yang tak terbatas. Seolah tak cukup
engkau serahkan seluruh hidup. Tatapan yang telah tertinggal oleh waktu,
mustahil diulang. Sebab, belahan jiwanya terlanjur mengangkasa. Meninggalkan di
galaksi cinta. Membiarkannya menunggu tanpa tenggat waktu. Rasanya, melanjutkan
hidup sekedar menghitung mundur menuju hari kematian. Namun, dia rela. Engkau mengatainya
bodoh. Namun, dia rela.
Ada yang
menyendiri sambil menatap langit. Baginya, menarik napas pun seolah membuat
nyawanya terampas. Rindu yang menyesakkan. Pada titik tertentu seperti
mengosongkan paru-paru. Rasa yang sudah begitu renta, tapi tak pernah menjadi
kata-kata.dia kini terlalu tua untuk merangkai kalimat mesra. Bagimu, tak ada
kata terlambatuntuk mencintai, baginya tidak pernah ada waktu untuk mengatakan,
“Setelah tuhan, kaulah yang mampu mematikan matahari.”
Dahulu, ketika
jiwanya belum terbelah, ketika kebersamaan masih begitu mudah, dia menyemai
bibit dalam hati. Begitu asyiknya hingga saat setengah jiwanya pergi, sudah
terlambat untuk mematikan tanaman hati ini. Hingga kini menunggu baginya tak
berarti harus bertemu. Ia melarikkan bait puisi tanpa berharap setengah jiwanya
kembali. Kepada temaram petang, dia melengkungkan perasaannya yang berumur
selamanya. Terkadang, hasratnya menggejolak, menghasutnya untuk melakukan
sebuah perjalanan. Meniti jejak di permukaan pelangi. Barangkali, setengah
jiwanya berada disana.
Jika waktu adalah
kupu-kupu, sudah lelah hatinya melanglang setiap sudut bumi. Sampai waktunya
berhenti. Tetap menunggu, namun tak berharap untuk bertemu. Dia menyadari, tidak
semua cinta layak diperjuangkan. Maka, yang tertinggal adalah jejak kasih yang
mulai memburam. Ia bersihkan setiap debu yang membuat jejak itu tak gemintang. Mencoba
bergembira dengan apa yang pernah terjadi. Menyimpannya bagai sekotak
perhiasaan.engkau mengatainya sia-sia. Namun, dia tetap cinta. Sudahlah... aku
sudah tidak punya doa untukmu. Selesai. Tuhan sudah terlalu baik. Tidak pantas
aku merepotkan Dia terus-menerus. Lanjutkan hidupmu. Namun, aku tak akan meminta
izin jika sewaktu-waktu ingin menggambar wajahmu. Aku harap bukan dengan air
mata. Aku bosan. Penyiksaan itu sudah menua. Ketika setiap ingatan tentang kau
mengubah keceriaan.
Aku tak
menjajikan apapun. Tidak, bahwa aku akan melupakanmu atau malah mengabadikan
tawamu. Bukankah sejak namamu di kepalaku, aku pun tidak pernah berkata
apa-apa?
Langit adalah
arenamu, terbanglah! Aku tidak akan berkata apa-apa. Ini bukan sebuah
pengorbanan. Sebab, aku memang tak pernah merasa berhak atasmu. Engkau akan
selalu menjadi keajaiban bagiku. Bahkan diammu, dulu.
Terima kasih,
karena engkau pernah menangis untukku. Aku tidak pernah bertanya dan engkau pun
membiarkannya sebagai misteri. Mengapa harus berkaca-kaca? Hanya sekali, itu
sudah cukup untuk membangun surga di mimpiku. Engkau tak harus tahu, penjaraku
membuat setiap jeda napasku adalah kebuntuan.
Apa di masa depan,
biarkan.
Bahkan, engkau
akan tetap remaja, meskipun usia kita kelak akan menua. Aku yang berdosa. Bahkan,
mengingatmu mungkin... adalah dosa. Namun, kau tahu, aku terlahir dengan
seragam dosa?
Ah, aku ingin
berbagi mimpiku dulu.aku hanya butuh sepotong sore yang tenang, angin sepoi,
dan helaan pada pucuk-pucuk ilalang.kita menikmati matahari dan sinarnya yang
kelebihan. Namun, mimpi itu tak akan menyata, meskipun aku memiliki surga. Kematian
tidak akan pernah menyatukan. Ini aku, gadis kecil yang engkau tahu dulu. Tidak
pernah benar-benar beranjak dari waktu itu. Aku terperangkap, mungkin
selamanya.
Namun, tak perlu
kau pikirkan itu. Aku sudah terbiasa dengan ini. Aku tidakk akan apa-apa. Tuhan
selalu membekaliku dengan baik. Lewat engkau, dia menjajahku. Namun, dia sudah mengguyuriku
dengan kesenangan lain. Meskipun aku benar-benar butuh surga untuk
menggantikanmu.
Jadi, sudahlah. Aku
tidak lagi punya doa buatmu. Waktu punya cara sendiri melewatkan segala ini.
Sudahlah. Mengepaklah.
Mengangkasalah.
Minggu, 19 April 2015
Mini Prolog
Ini aku. Gadis yang engkau tahu dulu, hampir bertahun itu. Ini aku. Menuliskan segala kecamuk kehidupanku yang berwarna kelihatannya.
Kau tahu? Aku mulai menulis ketika aku tahu kau suka membaca. Masih sukakah engkau membaca? Tak perlu suka atau tidak pun kau harus terus membaca. Sebab membaca adalah celah untuk kau merangsek pada kehidupan yang nyata. Bagiku membaca adalah segalanya. Tanpa membaca, aku tak akan mengerti tentang dunia ini, meski baru seperkecilnya. Aku akan sangat berterimakasih pada sosok yang telah membantuku membaca. Huruf-huruf lepas mulanya, lalu perlahan terangkai menjadi kata-kata.
Ingat ketika Baginda Muhammad dipaksa Jibril untuk membaca padahal beliau tak mampu? Iqra'! Iqra'! Bacalah! Sebab paksaan itulah beliau mampu membaca.
Maka, membacalah. Sebab disitu akan kau temukan banyak kristal-kristal pengetahuan tentang kehidupan ini.
Ini adalah tulisanku, yang kusebut sebagai mini prolog. Ini lembaranku, bacalah jika kau berkeinginan untuk mengeruk isinya.
Kau tahu? Aku mulai menulis ketika aku tahu kau suka membaca. Masih sukakah engkau membaca? Tak perlu suka atau tidak pun kau harus terus membaca. Sebab membaca adalah celah untuk kau merangsek pada kehidupan yang nyata. Bagiku membaca adalah segalanya. Tanpa membaca, aku tak akan mengerti tentang dunia ini, meski baru seperkecilnya. Aku akan sangat berterimakasih pada sosok yang telah membantuku membaca. Huruf-huruf lepas mulanya, lalu perlahan terangkai menjadi kata-kata.
Ingat ketika Baginda Muhammad dipaksa Jibril untuk membaca padahal beliau tak mampu? Iqra'! Iqra'! Bacalah! Sebab paksaan itulah beliau mampu membaca.
Maka, membacalah. Sebab disitu akan kau temukan banyak kristal-kristal pengetahuan tentang kehidupan ini.
Ini adalah tulisanku, yang kusebut sebagai mini prolog. Ini lembaranku, bacalah jika kau berkeinginan untuk mengeruk isinya.
Langganan:
Postingan (Atom)