Sabtu, 25 April 2015

Empat Lebih Lima Belas

Ia tersenyum. Matanya menerawang ke angkasa sana. Berharap setengah jiwanya berada di sampingnya. Ia tersenyum, lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Lalu kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya, menunduk.
"Aku tak boleh terlalu berharap," Ia bersikukuh. Terik matahari begitu menyengat. Hari sudah hampir sore. Jantungnya berpacu sedikit lebih cepat. Ia menarik napas seperti mengosongkan paru-paru lalu perlahan ia hembuskan.
Adzan ashar berkumandang. Memenuhi angkasa sana. Lalu, berbondong orang-orang menuju masjid, menghadap Sang Pencipta. Pukul berapakah sekarang? Berulang kali ia menatap jam yang menggantung di dinding. Tepat pukul empat lebih lima belas, ia bergegas menuju tempatnya. Kosong.
Ia melemparkan pandangan ke segala penjuru. Mencari sosoknya, namun tetap saja masih kosong. Ia mendesah panjang. Setengah jiwanya tak berada di tempatnya. Benar-benar tak ada. Lalu kemanakah? Bukankah mereka sebelumnya telah bersepakat? harusnya ia tahu, harusnya ia mengerti. Seharusnya ia tak boleh terlalu berharap! Ia berbalik pergi, dan setiap ia melihat tempat itu, perih hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar